Apa Itu Skena? Pengertian Lengkap, Ciri Khas, dan Tren Terbaru
Bagi Anda yang aktif di media sosial, istilah "apa itu skena" mungkin sering muncul, terutama di TikTok atau X. Kata ini sering digunakan untuk mendeskripsikan kelompok atau gaya hidup tertentu, namun pengertian skena yang sebenarnya sering disalahpahami. Artikel ini akan menjelaskan secara tuntas arti skena, asal-usulnya, dan bagaimana ia bertransformasi menjadi tren dominan di kalangan anak muda Indonesia.
Membongkar Arti Skena: Dari Budaya Musik ke Gaya Hidup
Secara etimologi, kata skena adalah serapan dari bahasa Inggris, yaitu "Scene", yang memiliki arti harfiah "pemandangan" atau "latar". Namun, dalam konteks sosial dan budaya populer, scene merujuk pada komunitas atau lingkungan sosial yang memiliki minat, gaya, dan nilai yang sama, sering kali berpusat pada genre musik tertentu (misalnya, punk scene, indie scene, metal scene).
Di Indonesia, istilah skena itu apa telah mengalami pergeseran makna yang signifikan. Awalnya, ia memang merujuk pada komunitas musik underground atau independen yang eksklusif. Namun, kini, "skena" telah menjadi label yang lebih luas, sering kali dilekatkan pada individu yang menunjukkan estetika tertentu, terutama yang terkait dengan musik non-arus utama, mode vintage, dan sikap yang dianggap "anti-arus utama" (walaupun ironisnya, kini menjadi arus utama).
Skena Adalah: Tiga Pilar Utama yang Mendefinisikannya
Untuk memahami sepenuhnya bagaimana skena adalah sebuah fenomena, kita perlu melihat tiga komponen utama yang membentuk identitas kolektif ini:
- Musik (The Soundtrack): Pilar utama skena selalu terkait dengan musik. Biasanya, anak skena menggemari band-band independen (indie), folk, atau musisi yang memiliki citra "anti-kemapanan". Genre yang populer di kalangan ini seringkali memerlukan pendalaman lirik atau apresiasi yang lebih spesifik, menjauhkan diri dari musik pop komersial.
- Gaya Hidup (The Vibe): Skena menekankan keaslian (authenticity) dan penolakan terhadap konsumerisme berlebihan. Mereka cenderung menghargai pengalaman dibandingkan kepemilikan materi yang mencolok. Tempat nongkrong favorit biasanya adalah kedai kopi independen, toko musik bekas, atau acara komunitas kecil.
- Estetika (The Look): Ini adalah aspek yang paling terlihat di media sosial. Estetika skena seringkali menggabungkan unsur vintage, thrifted (barang bekas), dan utilitas. Ada penekanan pada pakaian yang tidak terlalu mencolok namun memiliki cerita atau nilai artistik.
Ciri Khas Anak Skena: Kamus Fashion dan Musik
Jika Anda mencari tahu apa itu skena melalui pengamatan visual di media sosial, ada beberapa ciri khas yang hampir selalu melekat pada individu yang mengklaim atau dicap sebagai bagian dari "skena". Ciri-ciri ini sangat penting dalam konteks kamus medsos saat ini:
1. Fashion dan Penampilan
Fashion anak skena cenderung berlawanan dengan tren hypebeast atau streetwear yang mahal. Mereka mencari tampilan yang terkesan santai, jujur, namun tetap memiliki karakter:
- Pakaian Vintage/Thrifted: Kemeja flanel besar, jaket denim usang, atau kaos band lawas yang dibeli dari pasar loak atau toko barang bekas. Ini menunjukkan penolakan terhadap mode cepat (fast fashion).
- Aksesoris Fungsional: Tas selempang kecil (sling bag) atau tas pinggang, sering kali untuk membawa barang esensial seperti rokok, korek api, atau buku catatan kecil.
- Sepatu Lari Retro: Meskipun gaya keseluruhannya santai, pemilihan sepatu seringkali jatuh pada model sepatu lari klasik atau retro (seperti New Balance seri tertentu atau sepatu lari era 90-an) yang dipadukan dengan kaus kaki putih panjang.
- Warna Netral dan Earth Tone: Dominasi warna cokelat, hijau army, hitam, dan abu-abu.
2. Musik dan Referensi Budaya
Musik adalah bahasa utama bagi skena. Mereka seringkali memiliki pengetahuan mendalam tentang band-band yang kurang dikenal atau yang memiliki sejarah kultural kuat:
- Genre Dominan: Indie folk, shoegaze, post-punk, dan musik-musik yang dianggap memiliki kedalaman lirik.
- Kritik Sosial: Musik yang disukai seringkali mengandung kritik sosial atau refleksi filosofis, yang mendukung citra "berpikir kritis" yang melekat pada skena.
- Konser Kecil: Mereka lebih memilih menghadiri pertunjukan musik di kafe atau venue kecil daripada konser stadion besar, menekankan pengalaman intim dan dukungan terhadap komunitas lokal.
Pergeseran Makna dan Kritik di Media Sosial
Fenomena skena itu apa menjadi sangat menarik ketika dilihat melalui lensa media sosial. Di satu sisi, skena adalah manifestasi dari pencarian identitas dan keinginan untuk menjadi bagian dari komunitas yang otentik. Di sisi lain, popularitas istilah ini justru menimbulkan kritik dan ironi.
Dalam kamus medsos, istilah "skena" kini sering digunakan secara ironis. Ketika sebuah gaya atau komunitas yang seharusnya eksklusif dan anti-arus utama justru menjadi sangat populer dan mudah ditiru, ia kehilangan keasliannya. Kritik utama terhadap "anak skena" modern adalah:
- Komodifikasi Keaslian: Apa yang dimulai sebagai penolakan terhadap tren kini telah menjadi tren itu sendiri. Orang-orang mengikuti estetika skena bukan karena minat mendalam pada musik atau filosofinya, melainkan hanya untuk mendapatkan validasi sosial (social validation).
- Uniformitas: Ironisnya, alih-alih tampil unik, banyak individu "skena" justru berakhir dengan penampilan yang seragam, mengikuti panduan tidak tertulis tentang cara berpakaian dan bertingkah laku.
- Elitisme: Beberapa kelompok skena dituduh menunjukkan sikap elitis, memandang rendah orang lain yang menyukai musik atau mode arus utama.
Oleh karena itu, di platform seperti TikTok, konten yang membahas pengertian skena seringkali berupa parodi atau meme yang menyoroti kontradiksi antara klaim keaslian dan realitas homogenitas.
Mengapa Penting Memahami Fenomena Skena?
Memahami apa itu skena bukan hanya tentang mengetahui tren fashion terbaru. Ini adalah jendela untuk melihat bagaimana generasi muda saat ini mencari makna dan komunitas di tengah derasnya informasi dan konsumerisme. Skena mewakili upaya untuk menciptakan ruang identitas yang berbeda, meskipun pada akhirnya ruang tersebut ikut terseret ke dalam pusaran budaya viral media sosial.
Intisari & Langkah Selanjutnya
skena adalah istilah yang berevolusi, berakar dari komunitas musik independen (scene) dan kini menjadi label gaya hidup yang mencakup fashion, musik, dan sikap. Meskipun bertujuan untuk otentisitas, popularitasnya di media sosial telah menjadikannya subjek kritik dan ironi.
Jika Anda tertarik dengan fenomena ini, langkah selanjutnya adalah menjelajahi komunitas musik independen lokal di kota Anda. Dengarkan musik yang mereka rekomendasikan dan amati bagaimana estetika tersebut diterjemahkan dalam kehidupan nyata, bukan hanya di filter media sosial.
.gif)